Get Gifs at CodemySpace.com

Selasa, 27 Desember 2011

Mungkin Bukan Takut Gagal, Tapi Takut Berhasil

"Procrastination is the fear of success. People procrastinate because they are afraid of the success that they know will result if they move ahead now."
-Denis Waitley
 
 
"Saya takut ketinggian. Tapi di negeri belasan ribu pulau ini,
demi keberhasilan saya harus mau naik pesawat kesana-kemari. 
Ketika masih muda, saya memaksa diri untuk menaklukkan banyak gunung di Nusantara. 
Di Gunung Gede dan Merapi, saya malah pernah merangkak secara harafiah. Sampai hari ini, sisa-sisa takut itu masih ada. Tapi, saya sangat ingin berhasil."
-Ikhwan Sopa-

Ini mungkin sering terjadi pada diri kita.

Kita menginginkan sesuatu, dan kita merasa sangat menginginkannya. Kita tahu dan kita yakin bahwa kita mampu. Kita paham betul bagaimana cara menuju ke sana dan mendapatkannya. Kita tidak mengkhawatirkan kegagalan.

Tapi, tak lama setelah kita memulai perjalanan, entah mengapa tiba-tiba kita berhenti dan kembali ke titik awal lagi. Kita kembali ke cara kerja dan kebiasaan lama. Terus begitu, berulang-ulang seperti lingkaran yang tak ada habisnya. Ciri khas dari fenomena ini adalah perilaku menunda-nunda. Kita menjadi penunda-nunda keberhasilan diri kita sendiri.

Kita perlu tahu, bahwa yang kita khawatirkan bukan lagi kegagalan. Justru, kita sedang takut akan keberhasilan. Kita takut berhasil.

Takut dan gagal mungkin bisa hidup bersama di dalam satu tubuh. Tapi takut dan berhasil, tidak bisa.

Kita tidak pernah memutuskan segala hal berdasarkan realitas yang sesungguhnya. Kita memutuskan segala hal berdasarkan keyakinan kita tentang dunia nyata. Begitu pula, ketika kita memutuskan untuk berhasil. Pertanyaannya adalah, apakah segala keyakinan kita memang telah mendukung kita untuk berhasil?

Takut gagal adalah fenomena yang mudah diidentifikasi. Takut berhasil, lebih sulit diidentifikasi sebab biasanya berakar pada berbagai bias konsepsi dan keyakinan di tingkat bawah sadar.

Bukanlah keberhasilan itu sendiri yang kita takutkan, tapi biasanya efek samping dari keberhasilan-lah yang kurang kita perhitungkan.

Takut gagal menyebabkan kita berupaya keras memenuhi syarat dan standar eksternal, yaitu syarat dan standar dunia luar yang bukan ditetapkan oleh diri kita. Takut sukses membuat kita terus berupaya menghindari syarat dan standar internal diri kita sendiri.

Takut gagal adalah tentang diri kita yang belum "doing the right things". Takut berhasil adalah tentang diri kita yang belum "doing the things right".

Takut gagal bermuara pada penghindaran tindakan. Takut berhasil lebih berbahaya, ia bermuara pada sabotase diri.

Apa penyebab dari ketakutan akan keberhasilan?

Berikut ini adalah bentuk-bentuk salah konsepsi dan salah keyakinan yang memunculkan ketakutan akan keberhasilan (dan ini, mungkin sekali jarang kita sadari).

1. Trauma dari masa lalu. Secara fisiologis, sangat mungkin rasa dari keberhasilan adalah sama dengan rasa kegagalan. Ini sering diungkapkan oleh para psikolog yang berkutat dengan fenomena traumatik.

2. Prinsip hidup. Bawah sadar kita terlanjur berlebihan dalam memegang prinsip "pantang menyerah" alias "pantang putus harapan". Tidak menyerah atau putus harapan, adalah prinsip positif yang pantas kita pegang erat-erat. Prinsip ini berlaku di sepanjang perjalanan kita menuju keberhasilan. Dan secara alamiah, ketika harapan itu tercapai, harapan itu kita anggap "otomatis" menjadi tidak diperlukan lagi. Maka, ketika kita membayangkan keberhasilan, pikiran bawah sadar kita dapat menjadi rancu dan mempersepsi keberhasilan di masa depan itu sebagai sesuatu yang identik dengan melepaskan harapan di hari ini. Padahal, harapan tak boleh kita lepaskan hari ini, dan ketika keberhasilan tercapai, maka harapan baru ditumbuhkan. Harapan lama tidak pantas hilang, melainkan tumbuh.

3. Orang tua dan yang dituakan. Rasa hormat kita kepada orang tua, dan kewibawaan mereka masih berpengaruh kuat pada diri kita yang telah dewasa, dalam cara yang masih sama dengan pengaruhnya ketika kita masih anak kecil. Rasa hormat dan kewibawaan itu, telah mencetak kita untuk selalu memposisikan diri sebagai inferior ketika dikaitkan dengan mereka. Ini, juga berlaku untuk kita yang mempunyai saudara yang lebih tua atau yang lebih kita hormati. Kita perlu mencari cara, agar rasa hormat kita dan kewibawaan mereka tetap bisa kita hidupkan, dengan cara yang lebih menghargai kedewasaan kita.

4. Pergeseran tanggung jawab. Sukses dapat menakutkan, ketika kita menimbang-nimbang beratnya tanggung jawab yang melekat pada keberhasilan. Kita mungkin mempersepsi keberhasilan sebagai pergeseran diri yang menjadi lebih pandai, lebih bijak, lebih cerdas, lebih mampu, dan sebagainya, yang langsung atau tidak langsung diikuti oleh makin besarnya tanggungjawab dan tantangan.

5. Prinsip Win-Lose. Kita mungkin berkeyakinan bahwa keberhasilan kita pastilah mengorbankan orang lain. Keberhasilan kita, kita yakini tercapai bersamaan dengan terjadinya kegagalan pada diri orang lain. Kita terlanjur meyakini bahwa sisi lain dari keberhasilan (diri), pastilah kegagalan (orang lain).

6. Proses kreasi. Kita mungkin berkeyakinan bahwa keberhasilan adalah hasil dari proses kreasi. Maka mungkin tanpa kita sadari, kita meyakini, bahwa jika sesuatu tercipta maka sesuatu yang lain dihancurkan.

7. Sisi gelap diri. Sebagaimana yang disinyalir para pakar, setiap keberhasilan akan memunculkan sisi gelap dari si pencapai keberhasilan. Apakah sisi gelap itu muncul oleh dirinya sendiri, atau ia muncul oleh fokus lampu sorot yang makin terang dan makin tajam diterpakan kepada dirinya dari segala arah.

8. Motivasi awal. Apa motivasi awal kita untuk berhasil? Mungkin itulah yang menjadi sebab bayang-bayang ketakutan akan keberhasilan. Misalnya, kita mungkin mematok tujuan keberhasilan sebagai sebentuk dendam atau kemarahan. Kita ingin menghukum orang lain dengan keberhasilan kita. Padahal jauh di dasar hati, setiap kita adalah manusia yang baik.

9. Efek samping cinta. Cinta orang tua dan lingkungan kita mungkin justru memunculkan dampak lain. Perlakuan mereka yang penuh cinta dan pemanjaan, tanpa kita sadari membangun keyakinan bahwa keberhasilan identik dengan kenyamanan.

10. Kompetisi. Kita mungkin mengejar keberhasilan dengan cara pandang berkompetisi dengan orang lain dan dunia. Padahal, kita mestinya berkompetisi dengan diri sendiri.

11. Keyakinan dasar. Kita mungkin berkeyakinan, bahwa menjadi berhasil adalah sama dengan masuk surga dengan merangkak. Semakin berhasil, maka semakin detil perhitungan dan pertanggungjawaban.

12. Beban lingkungan. Kita mungkin merasa bahwa jika kita berhasil, maka akan semakin banyak orang bergantung kepada kita, dan itu adalah sesuatu yang memberatkan.

13. Kesepian. Kita mungkin merasa takut kesepian, sebab orang yang berhasil jumlahnya selalu lebih sedikit dari jumlah orang yang kurang berhasil.

14. Kerja keras. Kita mungkin beranggapan bahwa sukses adalah kerja keras (dan kita tidak menyadari bahwa kita telah membuatnya lebih keras dari yang semestinya).

15. Proyeksi. Kita mungkin berkeyakinan bahwa mencapai puncak adalah mudah, tapi bertahan tetap di sana adalah susah, dan jatuh dari ketinggian pastilah sangat sakit.

16. Persepsi tentang dunia. Kita mungkin berlebihan dalam memandang bahwa dunia ini adalah permainan dan senda gurau. Padahal, di dunia ini kita tetap mempunyai tugas suci.

17. Ketergantungan. Kita mungkin telah terlanjur sangat tergantung pada orang lain. Kita kurang mandiri.

18. Medan perang. Kita mungkin merasa, bahwa dengan berhasil kita akan menambah jumlah musuh atau orang lain yang iri dan dengki.

19. Privasi. Kita mungkin merasa bahwa dengan menjadi berhasil privasi kita nanti akan terganggu.

20. Start all over again. Kita mungkin merasa, bahwa setelah berhasil kita akan diharuskan memulai segala sesuatunya kembali dari awal dengan lebih berat dan makin penuh tantangan.

21. Bawah sadar. Takut sukses adalah fenomena bawah sadar. Kita mungkin tidak pernah bertanya kepada bagian bawah sadar dari diri kita. Sebenarnya, ia banyak tahu tentang segala kekhawatiran kita.

Bagaimana mengurangi ketakutan akan keberhasilan?

Satu hal penting yang perlu kita pahami terkait kegagalan dan keberhasilan, adalah kenyataan bahwa keduanya adalah tentang perubahan. Gagal adalah kondisi perubahan, dan keberhasilan demikian juga. Ketakutan kita akan kegagalan dan ketakutan kita tentang keberhasilan, pada dasarnya adalah ketakutan akan perubahan. Bedanya, yang satu mudah diidentifikasi, dan satunya lagi lebih sering tersembunyi.

Maka, berikut ini adalah cara yang terbilang mudah untuk mengurangi ketakutan akan keberhasilan, sebagaimana yang sering dianjurkan oleh para pakar.

Mulailah dengan menyiapkan selembar kertas dan alat tulis untuk mengoret-oret. Tulislah tujuan, cita-cita, atau keinginan kita di bagian atas kertas. Lalu tuliskan pertanyaan-pertanyaan berikut ini dan sekaligus jawablah.

"Apa yang akan terjadi jika saya berhasil mencapainya?"

Tulislah sebanyak mungkin hal yang dapat kita proyeksikan alias mungkin terjadi, muncul, atau tercipta, dan bagilah menjadi dua kelompok besar (kita bisa melakukannya dengan membuat sebuah tabel dua kolom). Kelompok pertama adalah hal positif dan menyenangkan, dan kelompok kedua adalah hal negatif dan tidak menyenangkan.

Untuk masing-masing poin dalam dua kelompok itu. Mulailah mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini.

"Apakah saya yakin tentang hal ini?"
"Dari mana keyakinan saya ini muncul?"
"Dari siapa keyakinan ini datang?"
"Apa rasanya mengingat orang itu kembali?"
"Apa niat saya di ballik keyakinan ini?"
"Apakah niat itu valid dan dapat dibenarkan?"
"Terkait dengan proyeksi ini, harapan apa yang dapat saya hidupkan sebagai kelanjutannya?"

"Best way to predict the future is to create it."
-Peter F. Drucker-

Artinya, kita harus mengkreasi masa depan sekarang. Seperti juga ketakutan akan kegagalan, ketakutan akan keberhasilan adalah kekhawatiran yang berlebihan (meskipun tidak kita sadari) tentang masa depan. Kekhawatiran itu lebih pantas kita selesaikan sekarang, dengan meng-ekologis-kan segala konsepsi dan keyakinan.

Dan jika kita mesti bekerja keras untuk mencapai keberhasilan, maka kerja keras itu harus kita lakukan sekarang dengan menggali sedalam mungkin guna menemukan penghambat-penghambat yang tersembunyi.

5 Hal Penting Dalam Kegagalan











Kegagalan itu sederhana. Kita melakukan sesuatu, dan kemudian kita belum mendapatkan hasil sebagaimana yang kita iinginkan.

Segera setelah sebuah kegagalan menjadi kenyataan, reaksi alamiah dari mentalitas manusiawi kita adalah tidak langsung mempercayai kegagalan itu sebagai kenyataan kehidupan.

Reaksi ini membuat kita "melontarkan diri" keluar dari kenyataan untuk sementara, sebagaimana seorang pilot pesawat jet tempur melontarkan dirinya keluar setelah mengetahui bahwa pesawatnya akan jatuh.

Di fase ini, ada lima hal paling penting yang perlu kita pahami terkait dengan kegagalan. Lima hal ini adalah opsi-opsi terakhir dan sekaligus awal yang dapat kita pilih untuk memaknai kegagalan. Opsi-opsi ini menjadi titik-titik balik dalam siklus kreasi kehidupan yang kita lakukan selanjutnya.

Pertama, Menolak

Jika kita menolak kegagalan, maka kita telah menghilangkan gagang pintu untuk kembali ke dunia nyata. Kita akan terjebak membuang waktu di dalam ilusi-ilusi yang menyakitkan, dan kita menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya tentang arah hidup kita.

Ciri penolakan adalah tidak mengakui keberadaan kegagalan, dan terus berupaya dengan sia-sia. Kita membolos dari sekolah kehidupan, berkeliaran di luar pagar dan gerbang.

Kedua, Menghindar

Jika kita menghindari kegagalan, maka kita telah menyerahkan anak kunci pintu itu kepada orang lain. Kita akan menyerahkan pembentukan dan pembangunan realitas kehidupan kita selanjutnya kepada pihak-pihak yang bukan kita. Kita juga menggeser realitas kehidupan keluar dari jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

Ciri penghindaran adalah berusaha melupakan kegagalan, tanpa membawa hikmah dan pembelajaran. Kita tidak membolos sekolah, tapi di luar kelas.

Ketiga, Menerima

Jika kita menerima kegagalan, maka kita telah secara langsung membuka pintu itu dan kembali masuk ke dalam realitas kehidupan kita. Kita menjadi manusia yang memiliki niat dan kemauan untuk bertanggungjawab dalam mengkreasi kehidupan kita sendiri, sesuai jalur yang kita tetapkan sebelumnya.

Setelah tiba di dunia nyata kembali, segala hal pada dasarnya telah kembali pula berada dalam genggaman tangan kita.

Dengan menerima, kita akan segera menyadari, bahwa hidup kita telah menjadi managable lagi.

Keempat, Diam

Menerima saja tidak cukup. Jika kita diam setelah mengalami kegagalan, maka kita membiarkan diri kita tenggelam di dalam kenyataan. Artinya, kita menciptakan realitas kehidupan yang tenggelam.

Kelima, Bertindak

Jika kita bertindak setelah mengalami kegagalan, maka kita langsung melatih kembali segala kekuatan dan kemampuan. Ini berarti, kita telah mengembalikan semangat kehidupan. Ini berarti, kita telah mengembalikan mentalitas yang sesuai dengan tuntutan jalur kehidupan yang telah kita tetapkan sebelumnya. Kita kembali di jalur dengan panel penunjuk energi yang "full" lagi.

Bisakah kegagalan dihindari? Tidak. Itulah caranya kita belajar. Tak ada manusia yang seratus persen berhasil dalam apapun yang dikerjakannya. Ini masih dunia, bukan surga.

Rabu, 21 Desember 2011

IBU :)

sebening tetesan embun pagi
secerah sinarnya mentari
bila ku tatap wajahmu ibu
ada kehangatan di dalam hatiku

 air wudhu selalu membasahimu
ayat suci selalu dikumandangkan
suara lembut penuh keluh dan kesah
berdoa untuk putra putrinya

oh ibuku engkaulah wanita
yang ku cinta selama hidupku
maafkan anakmu bila ada salah
pengorbananmu tanpa balas jasa

ya Allah ampuni dosanya
sayangilah seperti menyayangiku
berilah ia kebahagiaan
di dunia juga di akhirat


Rabu, 23 November 2011

 

 
 
 
Berpikirlah dari sudut pandang yang berbeda..

Seorang anak buta duduk bersila
... di sebuah tangga pintu masuk
pada sebuah supermarket.

Yup, dia adalah pengemis yang mengharapkan belas kasihan
dari para pengunjung yang berlalu lalang di depannya. Sebuah
kaleng bekas berdiri tegak di depan anak itu dengan hanya beberapa
keping uang receh di dalamnya, sedangkan kedua tangannya memegang sebuah papan yang bertuliskan “Saya buta, kasihanilah saya.”

Ada Seorang pria yang kebetulan lewat di depan anak kecil itu.
Ia merogoh sakunya, mengeluarkan beberapa keping uang receh,
lalu memasukkannya ke dalam kaleng anak itu. Sejenak, pria itu
memandang dan memperhatikan tulisan yang terpampang pada papan.
Seperti sedang memikirkan sesuatu, dahinya mulai bergerak-gerak.

Lalu pria itu meminta papan yang dibawa anak itu, membaliknya,
dan menuliskan beberapa kata di atasnya. Sambil tersenyum, pria itu kemudian mengembalikan papan tersebut, lalu pergi meninggalkannya. Sepeninggal pria itu, uang recehan pengunjung supermarket mulai mengalir lebih deras ke dalam kaleng anak itu. Kurang dari satu jam, kaleng anak itu sudah hampir penuh. Sebuah rejeki yang luar biasa bagi anak itu.

Beberapa waktu kemudian pria itu kembali menemui si anak
lalu menyapanya. Si anak berterima kasih kepada pria itu,
lalu menanyakan apa yang ditulis sang pria di papan miliknya.

Pria itu menjawab, “Saya menulis, ‘Hari yang sangat indah,
tetapi saya tidak bisa melihatnya.’ Saya hanya ingin mengutarakan
betapa beruntungnya orang masih bisa melihat. Saya tidak ingin pengunjung memberikan uangnya hanya sekedar kasihan sama kamu. Saya ingin mereka memberi atas dasar terima kasih karena telah diingatkan untuk selalu bersyukur.”

Pria itu melanjutkan kata-katanya,
“Selain untuk menambah penghasilanmu,

Saya ingin memberi pemahaman
bahwa ketika hidup memberimu
100 alasan untuk menangis,
tunjukkanlah bahwa masih ada
1000 alasan untuk tersenyum.”

Sahabat...
Ketika Allah SWt memberi kita anungrah kesehatan
ucapkanlah puja dan puji syukur kepada tuhan
mari kita pergunakan hidup kita untuk hal2 yg bermanfaat
dan berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai cita-cita

Tujuan hidup kita bukan mengejar kebahagian di Dunia saja
disana masih ada kehidupan yang lebih beharga
kehidupan yang sudah ditetapkan janjinya oleh Allah SWT
yang menciptakan langit, bumi beserta segala isinya..


" Pelajaran Hidup Dari Bocah Penjual Koran"

Umar, seorang anak kecil berlari-lari
menghampiri mobil yang berhenti
di lampu merah, dia membiarkan
tubuhnya terguyur air hujan,
hanya saja dia begitu erat melindungi
koran dagangannya dengan lembaran plastik.

“Korannya bu !”seru Umar berusaha mengalahkan suara air hujan.

Dari balik kaca mobil si ibu menatap dengan kasihan,
dalam hatinya dia merenung anak sekecil ini harus berhujan-hujan
untuk menjual koran. Dikeluarkannya satu lembar dua puluh ribuan
dari lipatan dompet dan membuka sedikit kaca mobil untuk mengulurkan lembaran uang.

“Mau koran yang mana bu?, tanya Umar dengan riang.

”Nggak usah, ini buat kamu makan, kalau koran tadi pagi
aku juga sudah baca”, jawab si ibu.

Si Umar kecil itu tampak terpaku,
lalu diulurkan kembali uang dua puluh ribu
yang dia terima, ”Terima kasih bu,
saya menjual koran, kalau ibu mau beli koran silakan,
tetapi kalau ibu memberikan secara cuma-cuma,
mohon maaf saya tidak bisa menerimanya
”, Umar berkata dengan muka penuh ketulusan.

Dengan geram si ibu menerima kembali pemberiannya,
raut mukanya tampak kesal, dengan cepat dinaikkannya kaca mobil.
Dari dalam mobil dia menggerutu ”UDAH MISKIN SOMBONG!”.

Kakinya menginjak pedal gas karena lampu
menunjukkan warna hijau. Meninggalkan Umar
yang termenung penuh tanda tanya.

Umar berlari lagi ke pinggir,
dia mencoba merapatkan tubuhnya
dengan dinding ruko tempatnya berteduh.
Tangan kecilnya sesekali mengusap muka
untuk menghilangkan butir-butir air yang masih menempel.
Sambil termenung dia menatap nanar rintik-rintik hujan di depannya,
”Ya Tuhan, hari ini belum satupun koranku yang laku”, gumamnya lemah.

Hari beranjak sore namun hujan belum juga reda,
Umar masih saja duduk berteduh di emperan ruko,
sesekali tampak tangannya memegangi perut yang sudah mulai lapar.

Tiba-tiba didepannya sebuah mobil berhenti,
seorang bapak dengan bersungut-sungut turun
dari mobil menuju tempat sampah,

”Tukang gorengan sialan, minyak kaya gini bisa bikin batuk”,

dengan penuh kebencian dicampakkannya satu plastik gorengan
ke dalam tong sampah, dan beranjak kembali masuk ke mobil.
Umar dengan langkah cepat menghampiri laki-laki yang ada di mobil.
”Mohon maaf pak, bolehkah saya mengambil makanan yang baru saja bapak buang untuk saya makan”, pinta Umar dengan penuh harap.

Pria itu tertegun, luar biasa anak kecil di depannya.
Harusnya dia bisa saja mengambilnya dari tong sampah
tanpa harus meminta ijin. Muncul perasaan belas kasihan dari dalam hatinya.

“Nak, bapak bisa membelikan kamu makanan yang baru, kalau kamu mau”

”Terima kasih pak, satu kantong gorengan itu rasanya
sudah cukup bagi saya, boleh khan pak?, tanya Umar sekali lagi.”Bbbbbooolehh”, jawab pria tersebut dengan tertegun.
Umar berlari riang menuju tong sampah,

dengan wajah sangat bahagia dia mulai makan gorengan,
sesekali dia tersenyum melihat laki-laki yang dari tadi masih memandanginya.

Dari dalam mobil sang bapak memandangi terus Umar yang sedang makan. Dengan perasaan berkecamuk di dekatinya Umar.

”Nak, bolehkah bapak bertanya, kenapa kamu harus meminta ijinku untuk mengambil makanan yang sudah aku buang?, dengan lembut pria itu bertanya dan menatap wajah anak kecil di depannya dengan penuh perasaan kasihan.”Karena saya melihat bapak yang membuangnya, saya akan merasakan enaknya makanan halal ini kalau saya bisa meminta ijin kepada pemiliknya, meskipun buat bapak mungkin sudah tidak berharga, tapi bagi saya makanan ini sangat berharga, dan saya pantas untuk meminta ijin memakannya ”, jawab si anak sambil membersihkan bibirnya dari sisa minyak goreng.

Pria itu sejenak terdiam, dalam batinnya berkata, anak ini sangat luar biasa. ”Satu lagi nak, aku kasihan melihatmu, aku lihat kamu basah dan kedinginan, aku ingin membelikanmu makanan lain yang lebih layak, tetapi mengapa kamu menolaknya”.Si anak kecil tersenyum dengan manis,

”Maaf pak, bukan maksud saya menolak rejeki dari Bapak. Buat saya makan sekantong gorengan hari ini sudah lebih dari cukup. Kalau saya mencampakkan gorengan ini dan menerima tawaran makanan yang lain yang menurut Bapak lebih layak, maka sekantong gorengan itu menjadi mubazir, basah oleh air hujan dan hanya akan jadi makanan tikus.”

”Tapi bukankah kamu mensia-siakan peluang untuk mendapatkan yang lebih baik dan lebih nikmat dengan makan di restoran di mana aku yang akan mentraktirnya”, ujar sang laki-laki dengan nada agak tinggi karena merasa anak di depannya berfikir keliru.

Umar menatap wajah laki-laki didepannya dengan tatapan yang sangat teduh,”Bapak!, saya sudah sangat bersyukur atas berkah sekantong gorengan hari ini. Saya lapar dan bapak mengijinkan saya memakannya”, Umar memperbaiki posisi duduknya dan berkata kembali, ”Dan saya merasa berbahagia, bukankah bahagia adalah bersyukur dan merasa cukup atas anugerah hari ini, bukan menikmati sesuatu yang nikmat dan hebat hari ini tetapi menimbulkan keinginan dan kedahagaan untuk mendapatkannya kembali di kemudian hari.”Umar berhenti berbicara sebentar, lalu diciumnya tangan laki-laki di depannya untuk berpamitan.

Dengan suara lirih dan tulus Umar melanjutkan kembali,”Kalau hari ini saya makan di restoran dan menikmati kelezatannya dan keesokan harinya saya menginginkannya kembali sementara bapak tidak lagi mentraktir saya, maka saya sangat khawatir apakah saya masih bisa merasakan kebahagiaannya”.

Pria tersebut masih saja terpana, dia mengamati anak kecil di depannya yang sedang sibuk merapikan koran dan kemudian berpamitan pergi.”Ternyata bukan dia yang harus dikasihani, Harusnya aku yang layak dikasihani, karena aku jarang bisa berdamai dengan hari ini”

Sahabat..
Meminta-minta adalah perbuatan yang tidak bermutu
lebih baik kita kerja keras banting tulang dari pada mengemis
dan menghrapkan belas kasih dari orang lain ada pepatah ," Tuhan memberi makan kepada setiap burung yang terbang diangkasa, tapi Tuhan tidak mengantarnya disarangnya".

Syukurilah anugrah yang Tuhan berikan untuk hari ini
jangan lupa untuk mengucapkan Syukur Alhamdulilah
semoga segala kebaikan yang kita lakukan
akan kembali kepada kita..

Semangattt!!!!

Ciptakan Cinta Di Dalam Hatimu

seorang bocah mengisi waktu luang dengan kegiatan
mendaki gunung bersama ayahnya.Entah mengapa,
tiba-tiba si bocah tersandung akar pohon dan jatuh.
... "Aduhh!" jeritannya memecah

Keheningan suasana pegunungan. Si bocah amat terkejut,
ketika ia mendengar suara di kejauhan menirukan teriakannya
persis sama, "Aduhh!". Dasar anak-anak, ia berteriak lagi, "Hei! Siapa kau?" Jawaban yang terdengar, "Hei! Siapa kau?" Lantaran kesal mengetahui suaranya selalu ditirukan, si anak berseru, "Pengecut kamu!"

Lagi-lagi ia terkejut ketika suara dari sana membalasnya
dengan umpatan serupa. Ia bertanya kepada sang ayah,
"Apa yang terjadi?" Dengan penuh kearifan sang ayah tersenyum,
"Anakku, coba perhatikan." Lelaki itu berkata keras,

"Saya kagum padamu!" Suara di kejauhan menjawab,
Saya kagum padamu!" Sekali lagi sang ayah berteriak
"Kamu sang juara!" Suara itu menjawab, "Kamu sang juara!"
Sang bocah sangat keheranan, meski demikian ia tetap belum mengerti.
Lalu sang ayah menjelaskan, "Suara itu adalah gema,
tapi sesungguhnya itulah kehidupan."

Sahabat...
Kehidupan memberi umpan balik
atas semua ucapan dan tindakanmu.
Dengan kata lain, kehidupan kita adalah
sebuah pantulan atau bayangan atas tindakan kita.
Bila kamu ingin mendapatkan lebih banyak cinta di dunia ini,
ya ciptakan cinta di dalam hatimu.

Bila kamu menginginkan sahabatmu memiliki kebaikan hati,
ya tingkatkan kebaikan hatimu . Hidup akan memberikan kembali
segala sesuatu yang telah kau berikan kepadanya. Ingat, hidup bukan
sebuah kebetulan tapi sebuah bayangan dirimu.


Falsafah Kehidupan

Hidup ini cuma sekali, jadi jangan pernah
menyesali pengalaman apapun yang kau alami,
susah ataupun sedih pasti terlewati..

Hidup adalah sebuah permainan dimana
terkadang engkau dipermainkan dengan
ketidakadilannya, namun engkau kalah bila
engkau marah dan menyalahkan keadaan..

Hidup tidaklah berjalan mundur
ataupun diam bersama kemarin
Jadikan langkahmu seperti anak panah
yang melesat terarah dengan bidikan yang tepat.
Jangan hanya termangu, jangan buang waktu.
Susunlah rencanamu. Dan Jngan Lupa Berdo'a
Libatkan Dia di tiap rencana & usahamu..

Kamis, 10 November 2011

Tuhan Itu Ada


Analogi yang sederhana tapi Mengagumkan!


Seorang konsumen datang ke tempat tukang cukur untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya.
Si tukang cukur mulai memotong rambut konsumennya dan mulailah terlibat pembicaraan yang mulai menghangat.

Mereka membicarakan banyak hal dan berbagai variasi topik pembicaraan, dan sesaat topik pembicaraan beralih tentang Tuhan.
Si tukang cukur bilang,"Saya tidak percaya Tuhan itu ada".
"Kenapa kamu berkata begitu ???" timpal si konsumen.
"Begini, coba Anda perhatikan di depan sana, di jalanan... untuk menyadari bahwa Tuhan itu tidak ada.
Katakan kepadaku, jika Tuhan itu ada,
Adakah yang sakit??,
Adakah anak terlantar??
Jika Tuhan ada, tidak akan ada sakit ataupun kesusahan.

Saya tidak dapat membayangkan Tuhan Yang Maha Penyayang akan membiarkan ini semua terjadi."
Si konsumen diam untuk berpikir sejenak, tapi tidak merespon karena dia tidak ingin memulai adu pendapat.
Si tukang cukur menyelesaikan pekerjaannya dan si konsumen pergi meninggalkan tempat si tukang cukur.
Beberapa saat setelah dia meninggalkan ruangan itu dia melihat ada orang di jalan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, kotor dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu terlihat kotor dan tidak terawat.
Si konsumen balik ke tempat tukang cukur dan berkata,

"Kamu tahu, sebenarnya TIDAK ADA TUKANG CUKUR."
Si tukang cukur tidak terima," Kamu kok bisa bilang begitu ??".
"Saya disini dan saya tukang cukur. Dan barusan saya mencukurmu!"
"Tidak!" elak si konsumen.
"Tukang cukur itu tidak ada, sebab jika ada, tidak akan ada orang dengan rambut panjang yang kotor dan brewokan seperti orang yang di luar sana", si konsumen menambahkan.
"Ah tidak, tapi tukang cukur tetap ada!", sanggah si tukang cukur.
" Apa yang kamu lihat itu adalah salah mereka sendiri, kenapa mereka tidak datang ke saya", jawab si tukang cukur membela diri.

"Cocok!" kata si konsumen menyetujui.
"Itulah point utama-nya!.
Sama dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA !
Tapi apa yang terjadi... orang-orang TIDAK MAU DATANG kepada-NYA, dan TIDAK MAU MENCARI-NYA.
Oleh karena itu banyak yang sakit dan tertimpa kesusahan di dunia ini."

Si tukang cukur terbengong !!!


"Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"